“ENGKAU LEBIH BERHARGA”

(Yes. 43:4-5)


Bonggol pring, begitu orang jawa menyebut pangkal pohon bambu. Bonggol pring ditumbuhi akar serabut yang tidak beraturan, bagian yang ditinggalkan setelah batang bambu diambil. Bonggol menjadi salah satu bagian yang tidak mempunyai nilai ekonomis, dari segi kegunaan bonggol bambu lebih banyak sebagai pengisi stok kayu bakar di dapur keluarga miskin pedesaan. Ya, Bonggol bambu yang tidak banyak guna, tidak menarik, tidak berharga…pantas ditinggalkan dan diremehkan.┬áNamun ditangan seorang ahli, bonggol bambu yang tidak mempunyai nilai ekonomis berubah menjadi sebuah karya seni yang indah. Karya seni tangan ahli tersebut menghadirkan keindahan yang bernilai ekonomis tinggi dan mampu menghidup banyak orang.

Banyak orang menyamakan diri dengan bonggol bambu, menilai diri sebagai orang yang tidak berguna, tidak menarik, tidak berharga, penuh dosa…hingga tidak sedikit yang menyakiti diri bahkan membinasakan diri dengan hidup dalam kesia-siaan. Apa yang dilakukan dan dihidupinya membawanya dalam kesia-siaan. Menghambakan diri kepada uang, gila kerja, gila hormat dan gila kuasa menjadi pangkal kerapuhan diri akan arti bagaimana mensyukuri kesempatan hidup yang di berikan oleh Sang Pemilik Hidup dan Mati. Kehancuran diri, kehancuran keluarga bahkan kehancuran bangsa berawal dari penghargaan diri yang salah.

Tidakkah kita memahami, Tuhan adalah Sang Pemahat hidup manusia. Dalam tanganNya, manusia yang rendah dan tidak berharga sangat mungkin diubah menjadi yang berharga dan mulia. Tuhan menciptakan manusia dengan cinta dan kasih. Menjadi ciptaan yang paling mulia diantara semua ciptaan yang ada. Tuhan menciptakan kita sebagai yang paling berharga dan mulia. Sebab itu terima dan hargailah dirimu sebagai yang mulia di mata Tuhan. Engkau lebih berharga dari bonggolbambu, engkau diciptakan sebagai “biji mataNya”. Dan camkanlah kata-kata Tuhan: “Engkau berharga dimata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau. Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau”.