BAB I
SEJARAH SINGKAT SINODE GKJ

A. PENDAHULUAN
Sejarah adalah catatan tentang suatu peristiwa nyata di masa lampau. Sejarah dapat menjadi sebuah cerita maupun petunjuk bagi generasi sesudahnya. Oleh karena itu belajar dari sejarah merupakan suatu kewajiban bagi setiap orang. Sejarah mencakup berbagai bidang kehidupan. Mempelajari sejarah dapat membuat seseorang mengambil sisi positif dari suatu peristiwa di masa lampau untuk dapat mengembangkan suatu keadaan yang lebih baik dimasa sekarang maupun yang akan datang. Banyak hal membuktikan bahwa keberhasilan maupun eksisnya suatu hal atau seseorang adalah karena didukung oleh factor sejarah yang menyertainya.
Hal tersebut juga berlaku dalam kehidupan bergereja. Gereja juga perlu melihat sejarah untuk dapat berkembang menjadi sebuah gereja yang mandiri dan dewasa. Gereja tidak dapat meninggalkan sejarah dalam jalannya kehidupan gereja sebab apa yang terjadi di masa lalu juga berpengaruh pada masa kini dan terkhusus untuk pengembangan masa depan gereja. Dengan mempelajari sejarah gereja berarti seseorang melihat keadaan gereja pada jaman yang telah lalu dengan semua hal yang terjadi di dalamnya.
Melalui sejarah yang ada dapat diketahui bagaimana kiprah, peran dan perkembangan gereja tertentu seiring dengan perubahan masa. Bagaimana gereja berhubungan dengan dunia sekitarnya yang mendewasakan atau membentuk gereja yang ada. Dari sejarah pula gereja dapat berefleksi melalui kejadian/peristiwa yang berguna untuk menunjang kehidupan bergereja.
Sejarah gereja juga sangat penting bagi seseorang yang hendak bekerja di dalamnya, dalam pelayanan gereja, terkhusus bagi pendeta. Karena itu oleh sinode GKJ, sejarah gereja menjadi salah satu mata bimbingan bagi calon pendeta dan diujikan dalam peremtoir. Bagi calon pendeta, belajar sejarah gereja berarti belajar untuk mengenal akan sosok gereja yang akan dipimpinnya. Mengenal dalam artian sesungguhnya, mulai dari awal mula berdirinya, perkembangan dan pertumbuhan gereja dari jaman ke jaman, dan pertumbuhan gereja tersebut menjadi gereja yang dewasa dan visioner. Dengan mengenal jemaat yang akan dipimpinnya maka seorang pendeta akan mengetahui arah dan tujuan yang hendak dicapai untuk membawa gerejanya. Dengan demikian dia akan menjadi seorang pendeta yang dapat membawa gerejanya ke arah yang lebih baik. Penguasaan sejarah gereja masing-masing membantu calon pendeta untuk menentukan cara atau program yang baik untuk perkembangan gerejanya menuju ke sebuah gereja yang visioner.

B. SEJARAH SINODE GKJ
Kekristenan masuk ke tanah Jawa bersamaan dengan masuknya misi dagang VOC ke Jawa. Semasa VOC dikirim tenaga-tenaga untuk pemeliharaan rohani orang-orang Belanda di Nusantara, 254 pendeta dan + 800 penghibur orang sakit. Kehadiran VOC beserta tenaga rohaniawan di Nusantara memberikan dampak positip terhadap munculnya kekristenan khususnya di Jawa. Kemudian mulai masuk pekabar-pekabar Injil dari NZG (Nederlansche Zendeling Genootschap) bekerja sama dengan London Missionary Society pada masa pemerintahan Inggris (1811-1816). Setelah Inggris tidak berkuasa lagi dan VOC dibubarkan, Pemerintah Kolonial Belanda mulai berkuasa (1816-1942) dan pada masa inilah pekabaran Injil di tanah Jawa membuahkan hasil.
Pekabaran Injil kepada orang-orang Jawa dilakukan oleh kaum awam kepada orang jawa, diantaranya adalah Ny. Philips (Banyumas, 1858), Mr. Anthing ( Jakarta), E.J.Le Jolle (Nyemoh, 1855), Coolen (Ngoro, 1827), Ds. Bruckner (Semarang, 1814), Keuchenius (Tegal, 1863), Stegerhoek (Solo), J. Emde (Surabaya, 1856), Ny, Philips Stevens (Purworejo, 1860). Mereka secara pribadi melakukan misi pekabaran Injil tersebut langsung kepada orang-orang Jawa di sekitar mereka. Usaha pekabaran Injil yang mereka lakukan ternyata membuahkan hasil yang menggembirakan sebab dari cara Pekabaran Injil mereka telah menumbuhkan generasi pertama orang-orang Kristen Jawa. Generasi pertama orang-orang Kristen di Jawa tersebut diantaranya: Kyai Sadrah, Kyai Tunggul Wulung, Gan Kwee, Laban, Vrede dan Leonard. Selanjutnya oleh generasi pertama orang Kristen inilah kekristenan diperkenalkan kepada masyarakat Jawa. Pekabaran Injil yang dilakukan oleh kaum awam pada perkembangannya diteruskan oleh Badan Pekabaran Injil (Zending), diantaranya tercatat Zending yang melakukan Pekabaran Injil di Jawa adalah NZG dan NGZV Zending dalam melakukan Pekabaran Injil dengan membuka pelayanan umum kepada masyarakat, melalui sekolah dan pelayanan kesehatan.
Pada perkembangan berikutnya, tahun 1892 NGZV berhenti berkarya dan bersamaan dengan itu muncul gereja-gereja Gereformeerde di Belanda. Mereka mempunyai pemahaman baru bahwa Pekabaran Injil adalah tugas gereja dan bukan tugas organisasi Pekabaran Injil. Dengan pemahaman baru itu maka mulai tahun 1892 Pekabaran Injil di Jawa (Tengah) dilakukan oleh gereja –gereja Gereformeede di Nederland (GKN = Gereformeede Kerken in Nederland), termasuk wilayah NGZV (Nederlansche Gereformeede Zending Vereniging) menjadi tanggung jawab GKN, mereka menjadi gereja pengutus bagi para Pekabar Injil.
Peran orang-orang pribumi dalam Pekabaran Injil tidak dapat diabaikan. Mereka menjadi cikal bakal pertumbuhan dan perkembangan Gereja Gereja Kristen Jawa. Kyai Sadrah tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan GKJ. Setelah Kyai Sadrah menerima Injil (1867) kemudian dia mengabarkan kekristenan kepada orang-orang Jawa. Diantara orang-orang Jawa timbullah kelompok-kelompok Kristen. Diantaranya di daerah Purworejo, Tegal dan Banyumas. Baptisan pertama bagi orang Jawa terjadi di Semarang (1858), di Purworejo (1860). Dari kelompok Kristen yang ada kemudian menyebar ke Yogyakarta, Surakarta dan keseluruh Jawa Tengah. Dalam pekabaran Injil-nya Kyai Sadrah tetap menggunakan symbol atau adat Jawa, dengan kata lain, imannya dihayati dan diungkapkan sebagai seorang Jawa tulen. Dengan berkembangnya “kekristenan Sadrah”, maka ada dua corak kekristenan di Jawa Tengah; Kekristenan Jawa dan kekristenan Belanda. Kyai Sadrah mengembangkan atau memimpin kekristenan Jawa untuk membedakan dari kekristenan Belanda (Kristen Londo). Kerjasama dengan Gereja Belanda (NGZV) tetap ada namun hanya sebatas hal Baptisan dan Perjamuan Kudus. Ia tidak mau diperintah oleh Gereja Belanda. Sikap inilah yang akhirnya menimbulkan pertentangan antara kelompok Sadrah dan pihak NGZV. Pihak NGZV berusaha menundukkan Kyai Sadrah dengan bantuan pemerintah dan akhirnya perpecahan gereja pun terjadi. Sebagian kecil mengikuti NGZV dan sebagaian besar mengikuti Kyai Sadrah.
Bersamaan dengan perpecahan yang terjadi, Pekabaran Injil NGZV diambil alih oleh GKN. GKN kemudian menjalin kerja sama dengan Sadrah dan berniat mempersatukan kembali gereja yang terpecah. Hubungan baikpun terjalin dengan GKN sampai Kyai Sadrah meninggal (1924). Pengganti Kyai Sadrah, Jotham, tetap bekerja sama dengan GKN dan akhirnya banyak pengikut Sadrah yang menggabungkan diri dengan gereja Gereformeed. Dalam perkembangan kekristenan di Jawa Tengah, GKN membagi daerah Jawa Tengah menjadi 5 wilayah Pekabaran Injil;

1. Amsterdam mengampu wilayah Yogyakarta.
2. Rotterdam mengampu wilayah Banyumas.
3. Utrecht mengampu wilayah Purworejo.
4. Heeg mengampu wilayah Kebumen.
5. Delft mengampu wilayah Wonosobo.

Pekabaran Injil oleh GKN ini memberikan kedewasaan pada Gereja Gereja Kristen Jawa. GKN juga mendorong gereja-gereja untuk mandiri dengan menetapkan pejabat-pejabat gerejawi dari masing-masing anggota jemaat. Pada tanggal 17-18 Pebruari 1931 untuk pertama kalinya diselenggarakan sidang “Synode Pasamoewan Gereformeed Djawi Tengah” bertempat di Kebumen, dan tanggal 17 Pebruari ditetapkan sebagai hari lahirnya Sinode GKJ.
Pada sidang sinode pertama tersebut dihadiri oleh utusan-utusan dari 5 Klasis; Klasis Solo, Klasis Yogyakarta, Klasis Purworejo, Klasis Purbalingga, Klasis Kebumen. Sejak lahirnya GKDTS pada sidang Sinode Pertama, GKJ mulai tumbuh dan berkembang dengan dewasa, terlebih mulai tahun 1940 atau masa pendudukan Jepang, GKJ sudah putus hubungan dengan GKN sehingga mengharuskan GKJ mandiri dalam mengurusi kehidupan gereja dan Pekabaran Injil.
Pada tahun 1949 terjadi usaha penyatuan antara gereja-gereja Kristen Jawa Tengah Selatan dan Gereja Kristen Jawa Tengah Utara. Persatuan gereja-gereja tersebut terjadi dalam sinode kesatuan yang disebut Sinode Gereja Gereja Kristen Jawa Tengah. Penyatuan tersebut didasarkan pada hal-hal prinsip yang ada dalam kedua gereja-gereja yaitu tentang kesamaan bahasa, suku, dogma dan kitab suci. Namun apa yang dipandang prinsip tersebut ternyata masih “kurang kuat”, terbukti tahun 1953 kesatuan antara GKJTS dan GKJTU berakhir.
Pekabaran Injil yang dilakukan oleh GKJ semakin meluas ke daerah Jawa Tengah bagian Utara, selain itu Pekabaran Injil GKJ meluas sampai Pulau Sumatera bagian Selatan. Pekabaran Injil didaerah ini berawal ketika banyak orang orang Jawa yang transmigrasi sehingga daerah Lampung dan Sumatera Selatan menjadi ajang Pekabaran Injil bagi gereja-gereja Jawa. Karena perkembangan semakin pesat maka sejak Sidang Sinode GKJ IV tahun 1953 Kawasan Lampung dan Palembang ditetapkan menjadi Klasis sendiri yaitu Klasis Sumatera Selatan.
Dalam persidangan Sinode XII di Klaten pada tahun 1973, diputuskan pembagian wilayah kerja sinode dalam 3 (tiga) sinode wilayah, yaitu:

- Sinode wilayah I, mempunyai wilayah kerja di Klasis Palembang, Metro, Bandarjaya, Seputih Rahman, dan Sri Bawono.
- Sinode wilayah II, mempunyai wilayah kerja di Klasis Banyumas Utara, Banyumas Selatan, Kebumen, Purworejo, Kedu, Yogyakarta Barat, Yogyakarta Timur dan gunung Kidul.
- Sinode wilayah III, mempunyai wilayah kerja di Klasis Surakarta barat, Surakarta Timur, Blora-Bojonegoro, Purwodadi, Semarang, & Tegal.

Pesatnya perkembangan gereja-gereja di sumatera bagian Selatan membawa kemandirian penuh menjadi sinode tersendiri lepas dari Sinode GKJ. Wilayah ini pada tahun 1987 dimandirikan menjadi sinode GKSBS. Karya Pekabaran Injil GKJ terus berkembang dan pada saat ini GKJ ada 266 buah yang tersebar di 6 propinsi di pulau Jawa (DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur). GKJ terhimpun dalam 26 Klasis, jumlah warga GKJ lebih kurang 226.952 orang.

Selengkapnya …